Resensi Buku Kaum Wanita Dalam Pergerakan Kebangsaan Indonesia

Judul buku : Kaum wanita dalam pergerakan kebangsaan Indonesia Penulis : Hetti Restianti Jenis buku : Buku ini termasuk kedalam kajian sejarah sosial Rangkuman Buku ini menceritakan tentang biografi singkat para Wanita yang ikut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan memperjuangkan nasib perempuan. Wanita-wanita tersebut diantaranya: 1. Nyi Ajeng Serang pemilik nama asli R.A. Kursiah Retno Edhi yang lahir pada tahun 1752 di Serang, dekat purwodadi jawa tengah. beliau pernah bertempur dengan belanda, karena terjadi kegelisahan akibat berbagai Tindakan pemerintahan belanda yang merendahkan harga diri dan kehormatan raja-raja jawa. 2. Martha Christina Tiahahu, beliau dilahirkan di kepulauan maluku, tepatnya di desa abubu (abobo), beliau ikut berperan melawan pihak kolonoal karena untuk menghapuskan system monopoli barang dagangan yang membuat rakyat maluku merasa tersiksa. 3. Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan, istri dari pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan sekaligus pendiri Aisyiah ini lahir pada tahun 1872 di Desa Pesantren Kauman, Yogyakarta. Perjuangan beliau terhadap kemerdekaan dan perjuangan islam yaitu dengan cara berdakwah ke pedalaman pedalaman seputar Jawa dan Sumatera Bersama suaminya guna untuk menegakkan agama islam dan mengangkat harkat serta martabat Wanita Indonesia. 4. Maria Walanda Maramis, Wanita yang dilahirkan di Kema, Sulawesi Utara, pada tanggal 1 desember 1872 perjuangannya bermula Ketika beliau menikah dengan seorang guru HIS Manado pada tahun 1890 bernama Yoseph Frederik calusung walanda karena melihat kondisi para Wanita minahasa yang tidak diizinkan bersekolah tinggi dan harus tinggal dirumah untuk menunggu saat menikah. Dengan bantuan suami dan beberapa orang terpelajar ia mendirikan organusasi Bernama percintaan ibu kepada anak turunannya (PIKAT). Tujuan organisasi ini ialah mendirikan sekolah sekolah rumah tangga untuk mendidik anak anak perempuan yang telah menamatkan sekolah dasar. 5. Rasuna Said Beliau dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, pada 14 Septembern1910. Beliau giat dalam memajukan Pendidikan dan berjuang untuk mencapai persamaan hak antara laki-laki dan Wanita. Dalam masa perjuangan , Rasuna banyak menyumbangkan tenaga untuk perjuangan. Dengan menjadi wakil daerah sumatera barat, diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR-RIS), selain itu beliau juga giat dalam bidang kewanitaan yaitu Perwari. 6. Raden Dewi Sartika Dewi sartika lahir di Bandung pada tanggal 4 desember 1884. Perjuangan beliau berawal dari keprihatinannya terhadap nasib wanita pribumi dari golongan “menak” maupun dari masyarakat. Mereka tidak diberi kesempatan berkembang, hidup terkurung di dalam rumah bertugas Melayani kebutuhan suami. Kaum Wanita pada saat itu sangat bergantung pada pria. Sehingga membuat dewi sartika bertekad membuat sekolah Wanita untuk kaum pribumi. Perjuangan beliau dalam mendirikan sekolah tersebut tidaklah mudah karena masih ada pihak pihak yang menentang gagasan tersebut dengan alasan bertentangan dengan adat istiadat, tapi itu tidak memathakan semanagat dewi sartika untuk mengangkat harkat dan martabat para Wanita pada zaman itu dan akhirnya dewi sartika memberanikan diri menghadap bupati Bandung untuk meminta bantuan atas niatnya itu. Dan akhirnya pada tanggal 16 Januari 1904 sekolah Wanita berhasil dibentuk. 7. Cut Nyak Meutia Dilahirkan di perak, Aceh, pada 1870. Dia termasuk pejuang yang pantang menyerah dalam melawan penjajah Belanda. Bersama suaminya mereka terus berpindah pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menghindarkan diri dari kepungan Belanda. Namun malangnya tempat persembunyiannya diketahui oleh pasukan Belanda. Cut Nyak Meutia mengadakan perlawanan dengan menggunakan sebilah rencong. 3 orang tantara belanda melepaskan tembakan dan mengenai kepala dan dadanya akhirnya beliau gugur pada saat itu juga. 8. Cut Nyak Dien Beliau dilahirkan di Lampadang, Aceh Besar, pada 1850. Dia termasuk salah seorang pejuang yang pantang tunduk dan tidak mau berdamai dengan belanda. 6 tahun lamanya pasukan belanda berusaha menangkapnya tetapi tidak berhasil. Karena umur semakin tua, mata mulai rabun dan penyakit encok pula menyrang Hingga pada akhirnya belanda berhasil menangkapnya dan ia dibuang ke sumedang, jawa barat. Disana beliau ditempatkan di rumah haji ilyas, seorang pemuka agama islam, tepatnya dibelakang kaum (masjid besar sumedang). Dirumah itulah cut nyak dien tinggal dan di rawat. Sebagai tahanan politik, cut nyak dien yang kemudian oleh masyarakat digelari “ibu perbu” (ratu) jarang keluar rumah. Namun, banyak sekali ibu dan anak anak yang belajar mengaji kepadanya. 9. Raden Ajeng Kartini 21 April 1879 Kartini dilahirkan di desa mayong, kabupaten jepara, jawa tengah. Perjuangannya untuk para Wanita indonesi bermula karena adat istiadat yang berlaku pada saat itu. Dimana seorang gadis bangsawan yang telah berusia 12 tahun sudah dianggap dewasa dan tidak boleh lagi bebas berpergian kemana mana dan dia tidak dapat lagi keluar rumah untuk bersekolah. Dia harus tetap dirumah dan bersiap siap untuk menjadi ibu rumah tangga. Demikian pula halnya yang dialami kartini. Kartini seorang anak yang pintar dan suka belajar. Dia haus akan ilmu pengetahuan. Namun karena kebiasaan dan adat istiadat yang lama, dia harus berhenti sekolah. Tapi semua itu tidak mematahkan semangat kartini dalam menuntut ilmu, dia memberanukan diri berbicara kepada ayahnya untuk menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan sekolahnya. Namun ayah kartini dengan berat hati menolak keinginannya. Dan akhirnya kartini meraskan hidup seperti halnya burung yang berada dalam sangkar emas. Kebiasaan tersebut dinamakan “pingitan”. Dan dilanjut dengan adiknya Rukmini dan kardinah karena umur mereka yang sudah cukup untuk dipingit. Juga kakak tertua kartini yang tidak menyetujui cita-citanya. Menurutnya perempuan itu tidak sama derajat dan kedudukannya dengan pria. Tentu saja kartini tidak menyetujui pendapat kakaknya tersebut. Kemudian Pada tahun pada tahun 1898 mereka dibebaskan dari pingitan oleh orang tuanya. Mereka diperkenankan pergi kedaerah lain untuk melihat lihat keadaan. Lalu pada tahun 1900, kartini berkenalan dengan direktur pengajaran hindia belanda mr. j. h. abendanon dan nyonya abendanon, dan ia menceritakan tentang cita citanya. kemudia tuan abendanon memberi petunjuk kepada kartini untuk mengirim surat permohonan kepada pemerintah hindia belanda agar diberi izin disekolah guru di Batavia. Dan permohonan nya pun diterima, tetapi beasiswa tersebut diberikan kepada Agus salim seorang pemuda asal sumatera barat. Dikarenakan ia akan menikah. Kemudian pada tanggal 8 november 1903, akhirnya kartini resmi menikah dengan bupati rembang raden adipati djojoadiningrat. kemudian mereka mendirikan sekolah anak gadis dirumahnya sendiri, selain itu mereka juga bercita cita mendirikan sekolah pertukangan untuk laki laki. Usia perkawinan kartini tidak lah lama. Tepat pada tanggal 17 September 1904 , kartini meninggal dunia. Tetapi tidak dengan karya – karyanya yang disambut gembira oleh masyarakat belanda. Salah satu karangannya yang berharga itu berjudul “habis gelap terbitlah terang”. • Buku ini saya pilih karena saya ingin belajar meneladani sifat patriotisme pahlawan Wanita pada zaman dulu, meskipun perjuangan saya mungkin akan sangat jauh berbeda dengan perjuangan mereka dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjunjung hak perempuan di Indonesia. • Bagian yang menarik dari buku tersebut yaitu pada bagian “ mengenal cut nyak dien ” selain di kenal sebagai pejuang beliau juga tidak pernah melalaikan kewajibannya sebagai umat islam dan selalu mendekatkan dirinya kepada sang kholiq. Kritik dan saran Dalam buku ini terdapat kesalahan dalam penulisan dan penggandaan kata. untuk itu alangkah baiknya jika penerbit lebih jeli dan berhati hati dalam proses pengeditan.

Komentar